Senin, 01 Juli 2013

RUSIA DAN IRAN...MELAKUKAN LATIHAN PERANG LAUT....???....>>> UNTUK APA...KERJASAMA RUSIA DAN IRAN DITENGAH KAWASAN TIMUR TENGAH YANG SEDANG BERGEJOLAK...??>> APAKAH SEMUA PIHAK2 YANG SEDANG MENGHADAPI PEPERANGAN BESAR...SELALU WASPADA...DAN PERSIAPAN DAN PEMATANGAN DENGAN SEGALA DALIH SEDANG DI KUATKAN...???>> RAKYAT AWAM ...... MENJADI BINGUNG... DAN SEMAKIN SAMAR...NAMUN PERASAAN DAN JIWA2...SELALAU BERTANYA-TANYA...??? ADA APA DAN MENGAPA HARUS ADA ALIANSI BARU...??>> LALU DIMANAKAH ARAB SAUDI-TURKI-MESIR-ISRAEL-QATAR-KUWAIT-AS-NATO??... >>> DAN .ADAKAH GAMBARAN KEARAH KAWASAN YANG DAMAI DAN DAPAT MENYELESAIKAN MASALAH PALESTINA ...?? APAKAH ADA ....INDIKASI ... SEMAKIN JELAS-NYATA- DAN MENGANDUNG JAMINAN..PENYELESAIAN YANG ADIL BAGI BANGSA DAN RAKYAT PALESTINA...??>> DIMANAKAH ABBAS-DAN TOKOH2 HAMAS...??>> ....Iran telah mengirim 2 kapal berpeluru kendali buatan domestik ke Astrakhan, Laut Kaspia, sebagai bagian dari peningkatan kerjasama militer kedua negara. Selama kunjungan tersebut para perwira AL Iran mengadakan kunjungan ke berbagai fasilitas militer Rusia di kota sekitar serta mengadakan pertemuan dengan beberapa pejabat dan perwira tinggi Rusia. Kunjungan kapal-kapal perang Iran tersebut merupakan balasan dari kunjungan kapal-kapal perang Rusia dari Armada Pasifik, ke pelabuhan Bandar Abbas, tgl 21 April lalu. Armada kecil Rusia itu terdiri dari destroyer anti-kapal selam "Admiral Panteleyev", dan kapal logistik "Peresvet" dan kapal pengangkut "Admiral Nevelskoi" dengan jumlah personil mencapai 712 orang Kapal-kapal tersebut selanjutnya berlayar ke Laut Tengah untuk mengaktifkan kembali Armada Laut Tengah Rusia yang dinon-aktifkan setelah runtuhnya UNi Sovyet...>> ...Angkatan laut Iran dan Rusia akan melakukan latihan perang bersama di Laut Kaspia tahun ini. Latihan bersama ini merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya dilakukan tahun 2009 dengan melibatkan sekitar 30 kapal perang dari kedua negara.>> ...... Sejatinya rezim Assad adalah rezim sekuler dan otoriter dengan segala represinya. Nama partainya pun Partai Sosialis. Mirip dengan rezim Saddam. Namun, Arab Spring membuat dunia Arab bergolak. Awalnya, adalah program demokratisasi George W Bush untuk Timur Tengah. Sejak pidato pada 6 November 2003 itu, Amerika Serikat menebarkan dolar ke wilayah itu. Panennya terjadi pada masa Obama ini. Tentu, gelombang demokratisasi tak akan terjadi jika tanpa dukungan sosial. Arus internasional berpadu dengan arus bawah. Awalnya Tunisia, lalu Yaman, Mesir, Libya, dan kini sedang menunggu akhir pertarungan di Suriah. Apakah di negeri ini akan gagal seperti halnya di Bahrain? Arab Spring memang tak berlaku di negeri-negeri kerajaan, termasuk Bahrain, yang justru menjadi sekutu Amerika Serikat selama ini...>> ...Dimensi konflik di Suriah menjadi rumit. Apalagi di negeri ini, ada rivalitas antara Syiah dan Suni. Ketika kemenangan tak kunjung diraih salah satu pihak, paling gampang adalah memanfaatkan kekuatan nilai yang berlaku di masyarakat. Agama adalah salah satunya. Kelompok Sunni-seperti Ikhwanul Muslimin, kaum salaf/Wahabi, juga Alqaidah-yang selama ini tertekan di bawah rezim Assad menjadi kekuatan utama perlawanan. Sedangkan, kelompok Syiah menjadi pendukung rezim Assad. Negeri-negeri di sekitar Suriah, termasuk ulama dan masyarakatnya, menjadi terlibat secara emosional...>> ....demokratisasi di Suriah seolah sedang buntu. Secara geopolitik, negeri ini menjadi simpul kepentingan Rusia dan Iran. Bahkan, Cina ikut mendukung rezim Assad karena Cina memiliki perjanjian untuk saling mendukung dengan Rusia. NATO dan sekutunya terlibat aktif untuk menggulingkan Assad walau tak mengirim pasukan secara langsung...>> Bagi Barat, perang Suriah sebenarnya adalah perang proksimal untuk mengamankan kepentingan Israel. Artinya, untuk menjaga agar tangan mereka tetap bersih, Barat memperalat kelompok-kelompok Islam garis keras untuk berjihad di Suriah. Api kebencian agaknya telah membutakan sebagian dari mereka sehingga tak bisa menangkap realitas bahwa mereka sedang diadu jangkrik oleh Barat. Barat membantu dengan dana, senjata, dan yang terpenting, propaganda. Upaya propaganda ini sangat ampuh. Buktinya, semangat jihad dan kebencian terhadap Assad yang ‘kafir’ itu bisa menyebar luas bahkan hingga ke kampung-kampung di Indonesia yang jauhnya lebih dari 8500 km dari Damaskus...>> Inilah yang dinarasikan dalam film dokumenter karya jurnalis Rusia, Proddubniy, dkk, “Hasil perang ini tidak hanya berpengaruh bagi masa depan Suriah. Situasi di Suriah telah membagi dua dunia. Ini adalah konflik internal yang membawa konsekuensi global.” Saat ini, dunia memang sudah terbelah, sebagian besar berdiri bersama Barat menentang Assad (Indonesia termasuk di dalamnya), dan sebagian kecilnya, antara lain Iran, Rusia, China, tetap bertahan membela Assad...>> Para analis memperkirakan para pemberontak akan melakukan offensif besar-besaran bulan Agustus mendatang. Tujuan utama offensif tersebut adalah agar pemberontak mendapatkan kembali "daya tawar" yang hilang paska kekalahan di al Qusayr sebelum diadakannya pembicaraan damai internasional tentang Syria. Di sisi lain berbagai laporan juga menyebutkan kedatangan ribuan tentara Iran (meski secara resmi pemerintah Iran membantah laporan tersebut) bersama milisi-milisi Shiah Irak ke Syria, di samping para milisi Hizbollah yang telah terlibat dalam perang di Al Qusayr. ..>> Bulan ini dunia menyaksikan eskalasi kebrutalan para pemberontak Syria yang seluruh dunia mengetahui mendapatkan dukungan dana dan senjata dari Amerika, negara-negara Eropa, Saudi, Qatar dan Turki. Kebrutalan-kebrutalan tersebut mengiringi berbagai laporan pengiriman senjata-senjata baru ke tangan pemberontak menyusul terpukul mundurnya para pemberontak dari al Qusayr. ..>> Aksi brutal kembali dipertontonkan oleh para pemberontak Syria. Seorang pendeta dan 2 orang asistennya disembelih oleh para pemberontak di depan publik dengan menggunakan pisau komando di pinggiran kota Idlib, Syria. Menurut sumber-sumber di Gereja Orthodox Syria, pendeta malang tersebut bernama François Murad, namun belum diketahui nama 2 asistennya tersebut. Kepala-kepala yang terpotong diletakkan di atas kursi untuk dipertontonkan kepada publik dan selanjutnya dipasangkan kembali ke jasadnya. Gereja tempat mereka mengabdikan hidupnya dibakar dan barang-barangnya dijarah...>> Menurut Yusuf Qaradhawi, siapa pun yang berada di pihak Presiden Syria Bashar al Assad, entah itu militer, sipil, ulama, orang-orang bodoh harus dibunuh. Kalau Qaradhawi memfatwa mati Assad sebagaimana dia memfatwa mati Qaddafi, masih dimaklumi, tapi dia memfatwa mati SEMUA PENDUKUNG ASSAD termasuk sipil, ULAMA, dan orang2 awam yang justru sebagian besar adalah Muslim Sunni seperti Syekh Al Buthi (ulama besar Syria yang dihormati umat Islam se-dunia termasuk Indonesia). Jadi tindakan Qaradhawi itu kekeliruan yang fatal yang harus dikoreksi. Tidak boleh dibiarkan/didiamkan karena menyangkut nyawa banyak manusia...>> ....harus diakui bahwa sebenarnya kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi negara lain). Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau sebesar 687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai wilayah di sekitar Iran. AS adalah pelindung penuh Israel dan penyuplai utama dana dan senjata untuk militer Israel. Bujet militer Israel sendiri, pertahunnya mencapai 15 M Dollar (dua kali lipat Iran). ..>> ...Sebelum menjawab ‘mengapa Iran tidak langsung menyerang Israel’?, mari kita jawab dulu pertanyaan sebaliknya, mengapa AS dan Israel tidak jua menyerang Iran? AS sebenarnya tidak berkepentingan menyerang Iran. Tetapi, Israel berkali-kali meminta AS untuk menyerang Iran dengan alasan “Iran memiliki nuklir yang mengancam keselamatan Israel.” Ketika rezim Obama enggan menuruti permintaan Israel, Israel bahkan mengancam akan menyerang Iran sendirian, tanpa bantuan AS. Untuk menelaah prospek perang AS+Israel melawan Iran, Anthony Cordesman dari Center for Strategic and International Studies merilis hasil penelitiannya pada bulan Juni 2012. CSIS melakukan kalkulasi bila AS dan Israel menyerang Iran, antara lain menghitung berapa banyak pesawat pengebom yang dibutuhkan, berapa banyak bom yang harus dibawa, apa kemungkinan serangan balasan dari Iran, dan bagaimana cara menghadapinya. Salah satu kesimpulan yang diambil Cordesman adalah, profil militer Israel tidak akan mampu melakukan serangan tersebut. Untuk menyerang Iran, Israel harus mengerahkan seperempat pasukan udaranya dan semua pesawat tempurnya, sehingga tidak ada pesawat cadangan untuk berjaga-jaga. Pesawat-pesawat tempur itu harus melewati perbatasan Syria-Turki sebelum terbang di atas udara Irak and Iran. Dan wilayah-wilayah tersebut, sangat rawan bagi Israel. Menurut Cordesman, “Berdasarkan jumlah pesawat yang diperlukan, proses pengisian bahan bakar yang harus dilakukan sepanjang perjalanan menuju Iran, serta usaha mencapai target gempuran tanpa terdeteksi sangatlah beresiko tinggi dan kecil kemungkinan keseluruhan operasi militer tersebut akan berhasil.”..>>

QARDHAWI, SANG ULAMA TAKFIRI 

http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/06/qardhawi-sang-ulama-takfiri.html#.UdE1ydiN6So

 
 
A Nizami

Kabar Islam, 5 April 2013
========

Menurut Yusuf Qaradhawi, siapa pun yang berada di pihak Presiden Syria Bashar al Assad, entah itu militer, sipil, ulama, orang-orang bodoh harus dibunuh.

Kalau Qaradhawi memfatwa mati Assad sebagaimana dia memfatwa mati Qaddafi, masih dimaklumi, tapi dia memfatwa mati SEMUA PENDUKUNG ASSAD termasuk sipil, ULAMA, dan orang2 awam yang justru sebagian besar adalah Muslim Sunni seperti Syekh Al Buthi (ulama besar Syria yang dihormati umat Islam se-dunia termasuk Indonesia). Jadi tindakan Qaradhawi itu kekeliruan yang fatal yang harus dikoreksi. Tidak boleh dibiarkan/didiamkan karena menyangkut nyawa banyak manusia.


Entah benar atau tidak, yang jelas banyak ulama seperti Syeikh Al Buthi (84 thn) yang dituduh pemberontak berpihak pada Assad akhirnya tewas dibom di masjid bersama 49 jema’ahnya. Syaikh Hassan Saifuddin (80 tahun) secara brutal dipenggal kepalanya di bagian utara Kota Aleppo oleh sekelompok militan yang dibekingi pihak asing dan menyeret tubuhnya di jalanan. Kepalanya ditanam di menara sebuah masjid yang biasa digunakan untuk berkhotbah. Syaikh Saifuddin juga dikenal sebagai seorang anti-milisi, dan penentang perang yang sedang berkecamuk melawan pemerintah Suriah..

Sementara Imam-imam masjid lain ada yang mengungsi karena ada orang-orang  bersenjata mencarinya. Persis seperti di Indonesia dulu saat PKI membunuhi para ulama. Yusuf Qaradhawi sebelumnya juga berfatwa halal untuk membunuh Qaddafi, dan Qaddafi sekarang tewas dibunuh.

Sesungguhnya sikap para ulama seperti Syekh Al Buthi adalah ijtihad yang sesuai syariah karena bughot/pemberontakan itu haram. Ini sudah dicontohkan oleh Nabi Musa yang hijrah menyeberang laut merah, Nabi Muhammad yg hijrah ke Madinah, serta para pemuda Ashabul Kahfi yg menyingkir ke gua.

Jadi kenapa mereka difatwa mati?

Nabi Muhammad saat Futuh Mekkah saja tidak mau membunuh Abu Sofyan yang jadi musuh utamanya. Begitu pula para pengikutnya. Jadi kalau ada ulama berfatwa untuk membunuh semua orang yg dianggap berpihak pada Assad, sesuaikah itu dgn Islam? Apa bedanya dia dgn Assad yg dia anggap kejam?

Pantaskah membunuh ulama/imam masjid yang berada di masjid? Nabi hanya membunuh musuhnya, para prajurit di medan perang. Bukan orang-orang sipil yang berada di tempat ibadah/masjid.

Bagaimana jika para pengikut ulama tsb membalas dengan membunuh Yusuf Qaradhawi dan ulama2 Ikhwanul Muslimin?

Sebelumnya Yusuf Qaradhawi berfatwa untuk membunuh Khaddafi:
Fatwa Syaikh Qardhawi: "Bunuh Muammar Gaddafi!" dan "Darah Gaddafi Halal!"  Walhasil Khaddafi yang anti AS dan Israel tewas dan diganti dengan Boneka AS: Abdurrahim Al Kaib

Yusuf Qaradhawi juga pernah berfatwa tentang Zakat Profesi yang menurut jumhur Ulama seperti MUI adalah Bid’ah. Bahkan Yusuf Qaradhawi juga berfatwa halal mengucapkan Selamat Natal.

Buat pengikut Ikhwanul Muslimin, ketimbang berdebat dgn saya yg telah membawa dalil yg jelas dan taqlid buta kepada Qaradhawi, kenapa tidak menasehati ulamanya jika menyimpang? Seperti kata Yusuf Supendi (pendiri PKS yang kini membelot ke Hanura), jangan seperti orang Yahudi yg tidak berani mengkoreksi ulamanya sehingga ikut-ikutan salah.

"Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.“ (Al Maa-idah:63)

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.“ [At Taubah:31]

Selain itu mengikuti pemimpin yang sesat akan menyeret kita ke neraka:

“Allah berfirman: “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk ke dalam neraka, dia mengutuk pemimpinnya yang menyesatkannya; sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” Allah berfirman: “Masing-masing mendapat siksaan yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.” [Al A’raaf:38]

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat kepada Rasul.”

Dan mereka berkata:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.” [Al Ahzab:66-67]

Mengikuti pemimpin selama sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits adalah satu kewajiban. Namun jika menyimpang dan kita mengikutinya, niscaya muka kita dibolak-balikan Allah di dalam neraka.

“Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan” [Ash Shaaffaat:28]

Ayat di atas menjelaskan pemimpin yang menyesatkan ummatnya dengan berbagai dalih yang meski kelihatan masuk, namun menyimpang dari Al Qur’an dan Hadits.

“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” [Al Qashash:41]

Hati-hatilah pada pemimpin yang menyeru kita ke neraka. Tetaplah berpegang pada Al Qur’an dan Hadits.

Nabi Muhammad bersabda:

"Yang aku takuti terhadap umatku ialah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan." (HR. Abu Dawud)

"Yang aku takuti terhadap umatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan seorang ulama, hukum yang zalim, dan hawa nafsu yang diperturutkan." (HR. Asysyihaab)

"Celaka atas umatku dari ulama yang buruk." (HR. Al Hakim)

Membunuh Muslim pun haram. Apalagi jika tidak di medan perang seperti di masjid. Para pengikutnya cuma taqlid pada fatwa Syekh Yusuf Qaradhawi yang sebetulnya bertentangan dengan ajaran Islam.

Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw menjawab, “Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari)

Apalagi jika membunuh sesama Muslim dgn bantuan Yahudi dan Nasrani (AS dan Israel). Allah berfirman hanya orang munafik yg mendekati Yahudi dan Nasrani guna membunuh ummat Islam:

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [Al Maa-idah 52]

Walhasil jadi da’i kemana2 tapi ilmunya tidak cukup ini jadi “Ulama” yang menyeru ummat ke neraka.

Hadits Hudzaifah: Nabi bersabda: “Ya”, Dai – dai yang mengajak ke pintu Neraka Jahanam. Barang siapa yang mengikutinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda: “Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Beliau bersabda: “Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya”. Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?” Beliau bersabda: “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247. Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)


Judul asli: "Fatwa Yusuf Qaradhawi: Bunuh Semua Pendukung Assad Termasuk Ulama?"

3 komentar:

achmad arifiyanto mengatakan...
http://www.islamtimes.org/vdcb0wb5arhbz5p.qnur.html

merujuk padainformasi ini tolong diulas kebenarannya pak adi

achmad arifiyanto mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
achmad arifiyanto mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

 

PEMBERONTAK SYRIA SEMBELIH PEN- DETA  DAN ASISTENNYA 

http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/06/pemberontak-syria-sembelih-pendeta-dan.html#.UdE0o9iN6So

 
Aksi brutal kembali dipertontonkan oleh para pemberontak Syria. Seorang pendeta dan 2 orang asistennya disembelih oleh para pemberontak di depan publik dengan menggunakan pisau komando di pinggiran kota Idlib, Syria. Menurut sumber-sumber di Gereja Orthodox Syria, pendeta malang tersebut bernama François Murad, namun belum diketahui nama 2 asistennya tersebut.


Kepala-kepala yang terpotong diletakkan di atas kursi untuk dipertontonkan kepada publik dan selanjutnya dipasangkan kembali ke jasadnya. Gereja tempat mereka mengabdikan hidupnya dibakar dan barang-barangnya dijarah.

Aksi brutal ini menggemakan kembali berbagai aksi-aksi brutal yang dilakukan para pemberontak sebelumnya yang mengikuti seruan para ulama takfiri-wahabi seperti Yusuf Qardhawi, termasuk pembantaian terhadap seluruh penghuni sebuah perkampungan Kristen di kawasan Kota Homs bulan lalu, ketika pemberontak melarikan diri dari Al Qusayr. Sampai saat inipun 2 orang pendeta Kristen yang diculik pemberontak di Aleppo beberapa waktu lalu, masih belum diketahui nasibnya.

Pemberontak memang sering menyasar orang-orang Kristen dan kelompok-kelompok minoritas lainnya seperti orang-orang Alawi, Kurdi dan Druze yang umumnya memilih menjadi pendukung regim Bashar al Assad daripada diperintah oleh para teroris pemberontak. Namun orang-orang Shiah merupakan sasaran utama pemberontak. Minggu lalu misalnya, pemberontak membantai lebih dari 60 orang Shiah di Hatla. Sejak itu berbagai laporan aksi-aksi brutal dari rumah ke rumah yang dilakukan pemberontak bermunculan.

Bulan ini dunia menyaksikan eskalasi kebrutalan para pemberontak Syria yang seluruh dunia mengetahui mendapatkan dukungan dana dan senjata dari Amerika, negara-negara Eropa, Saudi, Qatar dan Turki. Kebrutalan-kebrutalan tersebut mengiringi berbagai laporan pengiriman senjata-senjata baru ke tangan pemberontak menyusul terpukul mundurnya para pemberontak dari al Qusayr.

Para analis memperkirakan para pemberontak akan melakukan offensif besar-besaran bulan Agustus mendatang. Tujuan utama offensif tersebut adalah agar pemberontak mendapatkan kembali "daya tawar" yang hilang paska kekalahan di al Qusayr sebelum diadakannya pembicaraan damai internasional tentang Syria. Di sisi lain berbagai laporan juga menyebutkan kedatangan ribuan tentara Iran (meski secara resmi pemerintah Iran membantah laporan tersebut) bersama milisi-milisi Shiah Irak ke Syria, di samping para milisi Hizbollah yang telah terlibat dalam perang di Al Qusayr.

Rekaman video peristiwa tersebut di atas bisa diakses di sini:

http://www.liveleak.com/view?i=7ba_1372272716

http://youtu.be/UCuKI9rIDOg


Sebarkan sebelum dihapus oleh providernya.


REF:
"Syrian Priest and Two Assistants Beheaded by Chechen Fighters in Syria"; Intifada Palestine; 28 Juni 2013

 

Suriah dan Masa Depan Dunia

New Release (2013)
Dina Y. Sulaeman*
(Dimuat di Sindo Weekly Magazine No. 16 Thn II)
http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/06/25/suriah-dan-masa-depan-dunia/

Aroma busuk perang Suriah telah menguar hingga ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Berbagai fatwa yang menyulut permusuhan dan kebencian diterbangkan oleh angin dengan sedemikian jauh, hingga baunya tercium sampai di Indonesia. Yusuf Qaradhawi, misalnya, berfatwa agar kaum Sunni berjihad melawan Syiah di Suriah. Padahal untuk pembebasan Palestina pun tak pernah ia sampai berfatwa sevulgar itu. Tak heran bila saat tulisan ini dibuat, sebuah ormas Islam sedang mengadakan road show penggalangan dana ke 35 kota se-Indonesia untuk membantu ‘umat muslim Sunni yang dibantai oleh rezim Syiah Suriah’. Dari beberapa lokasi awal saja, diberitakan sudah lebih dari seratus juta rupiah terkumpul.

Suriah, yang semula tak banyak dikenal rakyat Indonesia tiba-tiba menjadi sebuah isu penting, menyamai atau bahkan melebihi Palestina yang sejak lama menjadi sumber keprihatinan Muslimin Indonesia. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun sampai mengeluarkan ‘saran’ agar Presiden Suriah Bashar al-Assad mengundurkan diri dari jabatannya. Saran SBY ini disampaikan dalam pertemuannya dengan ahli tafsir asal Suriah, Syekh Muhammad Ali Ash-Shobuni, di Istana Presiden Bogor (7/1/2013).  Dari sisi etika diplomasi, ini sungguh sebuah pernyataan yang serius. Buat negara-negara Barat yang sangat sering mengabaikan etika diplomasi, hal ini mungkin biasa. Tapi, buat SBY yang selama ini selalu ‘hati-hati’ dalam memberikan pernyataan, ini jelas luar biasa. Wow. Bila terhadap Israel yang sudah terbukti brutal, SBY tidak pernah menuntut agar Rezim Zionis dibubarkan dan digantikan oleh rezim yang demokratis, lalu mengapa terhadap Assad, SBY bertindak demikian?

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Suriah memang bukan konflik biasa dan akan membawa efek bagi Indonesia. Konflik ini perlu diwaspadai karena Indonesia adalah negara yang multietnis, agama, dan mazhab, sehingga menyimpan potensi konflik yang cukup besar.

Sayangnya, konflik Suriah juga dipenuhi berbagai penyesatan informasi, yang bahkan dilakukan oleh media massa terkemuka sekelas BBC, New York Times, atau Al Jazeera. Namun, meski informasi bersilang sengkarut, ada sebuah paradoks besar dari konflik ini yang tak mungkin tertutupi. Seiring dengan fatwa-fatwa kebencian ulama garis keras, seiring dengan aksi-aksi bom bunuh diri, pengeboman, dan mutilasi mayat yang disertai suara takbir yang dilakukan pasukan pemberontak, mengapa AS, Prancis, dan Inggris berkeras mendukung mereka? Sejak kapankah perjuangan jihad bisa seiring sejalan dengan agenda Barat?

Paradoks ini bisa dipahami dengan mempelajari peta konflik Suriah. Oposisi Suriah minimalnya terdiri dari tiga kubu. Pertama, kubu pemberontak yang mengklaim akan mendirikan khilafah (pemerintahan Islam) di Suriah, sehingga didukung oleh Hizbut Tahrir. Milisi yang bergabung dalam kubu ini antara lain Jabhah Al Nusrah yang berafiliasi dengan Al Qaida. Kedua, kubu yang  bergabung dalam Syrian National Council (SNC) dan milisi Free Syrian Army, yang didominasi Ikhwanul Muslimin.

Didominasi Kelompok Pro-Israel
SNC bermarkas di Istanbul dan tak henti-hentinya bersidang dengan didampingi AS, Prancis, Inggris, Turki, Arab Saudi, dan Qatar. Kubu kedua ini lebih disukai Barat, meskipun pada saat yang sama sebenarnya Barat juga tetap mendorong Qatar dan Arab Saudi untuk terus membiayai kubu pertama. Sementara, kubu ketiga yang nyaris tak diberitakan media massa mainstream adalah kubu antiperang dan anti-intervensi asing yang tergabung dalam National Coalition Body. Bagi mereka, upaya penggulingan Assad haruslah dilakukan dengan cara-cara demokratis tanpa harus merusak perdamaian bangsa.

Lalu, dimana benang merah yang mempersatukan langkah Barat dengan kubu pertama dan kedua, yang secara umum sering disebut ‘mujahidin’ itu? Tak lain, Israel. Sejarah mencatat betapa Suriah adalah duri dalam daging bagi Israel. Selain tak pernah mau berdamai dengan Israel, rezim Assad juga pendukung Hamas dan Hizbullah.

Seperti diungkap penulis Yahudi pengkritik Israel, Gilad Atzmon, pemerintah Inggris maupun Prancis sesungguhnya didominasi oleh kelompok lobby pro-Israel. Sekitar 80%  anggota parlemen konservatif Inggris adalah anggota organisasi ultra Zionis, CFI (Conservatif Friend of Israel). Di Prancis situasinya bahkan lebih dahsyat karena sistem politik negara itu seluruhnya dibajak oleh organisasi lobby Zionis, CRIF (Conseil Représentatif des Institutions juives de France). Itulah sebabnya, Prancis dan Inggris sedemikian berkeras menyuplai dana dan senjata kepada pemberontak Suriah. Dan, sudah menjadi rahasia umum pula bahwa politik AS juga didominasi oleh Israel.  Sebagaimana dianalisis dua pakar Hubungan Internasional dari AS, Mearsheimer dan Walt, kelompok-kelompok lobby pro-Israel telah berhasil mengalihkan kebijakan politik AS menjauh dari kepentingan nasionalnya sendiri.

Bagi Barat, perang Suriah sebenarnya adalah perang proksimal untuk mengamankan kepentingan Israel. Artinya, untuk menjaga agar tangan mereka tetap bersih, Barat memperalat kelompok-kelompok Islam garis keras untuk berjihad di Suriah. Api kebencian agaknya telah membutakan sebagian dari mereka sehingga tak bisa menangkap realitas bahwa mereka sedang diadu jangkrik oleh Barat. Barat membantu dengan dana, senjata, dan yang terpenting, propaganda. Upaya propaganda ini sangat ampuh. Buktinya, semangat jihad dan kebencian terhadap Assad yang ‘kafir’ itu bisa menyebar luas bahkan hingga ke kampung-kampung di Indonesia yang jauhnya lebih dari 8500 km dari Damaskus.

Inilah yang dinarasikan dalam film dokumenter karya jurnalis Rusia, Proddubniy, dkk, “Hasil perang ini tidak hanya berpengaruh bagi masa depan Suriah. Situasi di Suriah telah membagi dua dunia. Ini adalah konflik internal yang membawa konsekuensi global.” Saat ini, dunia memang sudah terbelah, sebagian besar berdiri bersama Barat menentang Assad (Indonesia termasuk di dalamnya), dan sebagian kecilnya, antara lain Iran, Rusia, China, tetap bertahan membela Assad.

Sejak sepekan terakhir, Assad sudah kembali menguasai medan dan memukul mundur para pemberontak yang sebagian besarnya adalah tentara bayaran yang didatangkan dari berbagai negara asing. Namun, bila Barat tetap membabi buta ingin mengikuti kehendak Israel, bukan tak mungkin perang masih akan berlanjut ke tahap intervensi militer. Yang jelas, inilah suara hati seorang dokter dari Suriah yang diwawancarai Steve Inskeep dari NPR (29/5), “20% dari rakyat Suriah sangat mencintai Assad. Dan, 20 % lagi sangat membencinya. Tetapi, sisanya, 60% mencintai negara mereka. Mereka tidak mau negara mereka dihancurkan.”[]

*peneliti tamu di Global Future Institute, penulis buku ‘Prahara Suriah’

Indonesia dan Fitnah Suriah (Nasihin Masha)

Prahara Suriah

New Release (2013)
http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/06/28/indonesia-dan-fitnah-suriah-nasihin-masha/#more-1444
 
Akhirnya, setelah saya sejak 2011 terus menulis di blog ini soal Suriah, dan menyuarakan betapa konflik Suriah sangat berpotensi menyebabkan perpecahan umat di Indonesia; setelah saya dituduh ini-itu dan diintimidasi gara-gara tulisan-tulisan saya, ada juga orang ‘besar’ di media ‘besar’ yang berani menyuarakan hal yang sama:

Umat Islam Indonesia dan Fitnah Seputar Suriah
Oleh: Nasihin Masha

REPUBLIKA.CO.ID
Pertempuran di Suriah tak hanya membakar negeri itu, tapi juga memanaskan Timur Tengah. Bahkan, di Indonesia. Di Suriah tak hanya membuat mereka saling membunuh, tapi juga saling menggunakan dalil agama. Di dunia Arab, juga ada seruan mengirim relawan perang serta perang fatwa dan opini. Di Indonesia, yang ada hanyalah followers, ikut-ikutan. Kasus Suriah menjadi begitu sensitif dan panas masuk ke ranah agama.

Sejatinya rezim Assad adalah rezim sekuler dan otoriter dengan segala represinya. Nama partainya pun Partai Sosialis. Mirip dengan rezim Saddam. Namun, Arab Spring membuat dunia Arab bergolak. Awalnya, adalah program demokratisasi George W Bush untuk Timur Tengah. Sejak pidato pada 6 November 2003 itu, Amerika Serikat menebarkan dolar ke wilayah itu.

Panennya terjadi pada masa Obama ini. Tentu, gelombang demokratisasi tak akan terjadi jika tanpa dukungan sosial. Arus internasional berpadu dengan arus bawah. Awalnya Tunisia, lalu Yaman, Mesir, Libya, dan kini sedang menunggu akhir pertarungan di Suriah. Apakah di negeri ini akan gagal seperti halnya di Bahrain? Arab Spring memang tak berlaku di negeri-negeri kerajaan, termasuk Bahrain, yang justru menjadi sekutu Amerika Serikat selama ini.

Gelombang demokratisasi di Suriah seolah sedang buntu. Secara geopolitik, negeri ini menjadi simpul kepentingan Rusia dan Iran. Bahkan, Cina ikut mendukung rezim Assad karena Cina memiliki perjanjian untuk saling mendukung dengan Rusia. NATO dan sekutunya terlibat aktif untuk menggulingkan Assad walau tak mengirim pasukan secara langsung.

Dimensi konflik di Suriah menjadi rumit. Apalagi di negeri ini, ada rivalitas antara Syiah dan Suni. Ketika kemenangan tak kunjung diraih salah satu pihak, paling gampang adalah memanfaatkan kekuatan nilai yang berlaku di masyarakat. Agama adalah salah satunya. Kelompok Sunni-seperti Ikhwanul Muslimin, kaum salaf/Wahabi, juga Alqaidah-yang selama ini tertekan di bawah rezim Assad menjadi kekuatan utama perlawanan. Sedangkan, kelompok Syiah menjadi pendukung rezim Assad. Negeri-negeri di sekitar Suriah, termasuk ulama dan masyarakatnya, menjadi terlibat secara emosional.

Indonesia tak punya kepentingan apa pun secara langsung terhadap situasi di Suriah. Yang ada adalah rasa persaudaraan sesama Muslim. Tentu, kita berharap ada demokrasi di Suriah. Jalan demokrasi membuat umat bisa lebih mudah mengembangkan diri. Namun, penguasa selalu lebih cerdik. Umat diadu domba. Perbedaan Suni-Syiah menjadi jalan untuk membelah umat. Apalagi, kemudian terjadi perang fatwa dan opini. Dalil agama saling dilontarkan. Fitnah pun bertebaran. Terjadi saling tuduh di antara umat pun terjadi di Indonesia.  Kita harus benar-benar berhati-hati. Salah memilih diksi saja bisa menjadi kobaran api. Kita harus cermat memilih kata sebutan untuk kelompok yang melawan rezim Assad. Kata “pemberontak” pasti akan dikecam. Paling netral adalah “kelompok perlawanan bersenjata”. Bahkan, kata “oposisi” pun bisa dinilai tak tepat. Pilihan kata “gerilyawan” dan “pejuang” sudah menjadi usang dalam dimensi kekinian. Sejak Bush mengenalkan aksi multilateral tanpa melibatkan PBB, tata nilai dunia mulai bergeser. Diksi pun menjadi kacau.

Para penebar fitnah bukan hanya orang awam, melainkan aktivis keagamaan dan dai, bahkan ustaz. Tentu saja, yang namanya fitnah pasti salah, pasti bohong, pasti jahat, pasti buruk. Akan tetapi, ketika itu ditebarkan di mimbar keagamaan seolah menjadi positif. Lainnya melalui SMS berantai, mailing list, dan media sosial. Kita seolah kehilangan pegangan, lupa pada moral agama yang kita kukuhi. Kita menjadi tercerabut dari akar kita sendiri. Kesalehan pribadi seakan sesuatu yang terpisah dari kesalehan sosial. Solidaritas kelompok seolah menjadi berbeda dengan solidaritas umat. Tentu, itu bukan akhlaqul karimah. Pada titik ini, kita makin sadar bahwa pengetahuan, gelar, atau profesi tak berbanding lurus dengan kualitas seseorang.

Pada dimensi lain, umat Islam begitu mudah berpecah belah. Juga, begitu mudah dipantik sentimen agamanya. Padahal, kasus Suriah adalah peristiwa politik. Kasus Suriah tak kering dari beragam kepentingan yang begitu rumit. Kasus Suriah makin menegaskan pada kita bahwa umat tak memiliki kepemimpinan dan inisiatif.

Sebaiknya, energi kita difokuskan untuk memperbaiki kualitas diri kita. Hanya dengan itu kita bisa membangun dan memajukan diri. Indonesia adalah tempat terbaik untuk itu. Jangan jadikan dunia Arab sebagai titik pusat. Betul Islam lahir di sana, tapi bukan berarti apa yang dari sana pasti lebih baik. Islam Indonesia dengan segala kekhasannya jauh lebih menarik untuk zaman ini.
Mari kita merapikan diri di segala lini. Jauh lebih produktif berdaya kreasi daripada bersiasat. Misi suci akan berisi jika dari hati yang bersih, bukan dari hati yang sesat.

Mengapa Iran Tak Serang Israel?

New Release (2013)
http://dinasulaeman.wordpress.com/2012/11/21/mengapa-iran-tak-serang-israel/


Oleh: Dina Y. Sulaeman

Pertanyaan ini sering muncul di dalam berbagai diskusi di dunia maya, “Kalau Iran betul-betul anti-Israel, mengapa Iran sampai sekarang tidak jua menyerang Israel?” Pertanyaan ini konteksnya adalah menuduh Iran omdo (omong doang), bahkan ada yang lebih parah lagi, menggunakan teori konspirasi, “Ini bukti bahwa ada kerjasama di balik layar antara Iran dan Israel.”

Bila memakai kalkulasi hard power, harus diakui bahwa sebenarnya kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi negara lain). Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau sebesar  687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai wilayah di sekitar Iran. AS adalah pelindung penuh Israel dan penyuplai utama dana dan senjata untuk militer Israel. Bujet militer Israel sendiri, pertahunnya mencapai 15 M Dollar (dua kali lipat Iran).

Sebelum menjawab ‘mengapa Iran tidak langsung menyerang Israel’?, mari kita jawab dulu pertanyaan sebaliknya, mengapa AS dan Israel tidak jua menyerang Iran? AS sebenarnya tidak berkepentingan menyerang Iran. Tetapi, Israel berkali-kali meminta AS untuk menyerang Iran dengan alasan “Iran memiliki nuklir yang mengancam keselamatan Israel.” Ketika rezim Obama enggan menuruti permintaan Israel, Israel bahkan mengancam akan menyerang Iran sendirian, tanpa bantuan AS. Untuk menelaah prospek perang AS+Israel melawan Iran, Anthony Cordesman dari Center for Strategic and International Studies merilis hasil penelitiannya pada bulan Juni 2012.  CSIS melakukan kalkulasi bila AS dan Israel menyerang Iran, antara lain menghitung berapa banyak pesawat pengebom yang dibutuhkan, berapa banyak bom yang harus dibawa, apa kemungkinan serangan balasan dari Iran, dan bagaimana cara menghadapinya.

Salah satu kesimpulan yang diambil Cordesman adalah, profil militer Israel tidak akan mampu melakukan serangan tersebut. Untuk menyerang Iran, Israel harus mengerahkan seperempat pasukan udaranya dan semua pesawat tempurnya, sehingga tidak ada pesawat cadangan untuk berjaga-jaga. Pesawat-pesawat tempur itu harus melewati perbatasan Syria-Turki sebelum terbang di atas udara Irak and Iran. Dan wilayah-wilayah tersebut, sangat rawan bagi Israel. Menurut Cordesman, “Berdasarkan jumlah pesawat yang diperlukan, proses pengisian bahan bakar yang harus dilakukan sepanjang perjalanan menuju Iran, serta usaha mencapai target gempuran tanpa terdeteksi sangatlah beresiko tinggi dan kecil kemungkinan keseluruhan operasi militer tersebut akan berhasil.”

Dan bahkan jika pesawat tempur Israel berhasil mengebom reaktor nuklir Iran, pembalasan yang dilakukan Iran akan membawa dampak yang sangat buruk bagi kawasan Timur Tengah. Cordesman menulis, “Anda tidak akan ingin tahu seperti apa jadinya Timur Tengah sehari setelah Israel berupaya menyerang Iran.”

Karena itu, bila Israel berkeras ingin menyerang Iran, Israel harus menggandeng AS. Tapi, bila AS menyetujui permintaan Israel ini, AS harus mengerahkan ratusan pesawat dan kapal tempur. Serangan awal saja sudah membutuhkan alokasi kekuatan yang sangat besar, termasuk pengebom utama, upaya penghancuran system pertahanan  udara lawan, pesawat-pesawat pendamping untuk melindungi pesawat pengebom, peralatan perang elektronik, patrol udara untuk menahan serangan balasan dari Iran, dll. Pada saat yang sama, AS harus menghalangi Iran agar tidak melakukan aksi apapun di Selat Hormuz. Bila Iran sampai berhasil memblokir Selat Hormuz, suplai minyak dan gas dunia akan terhambat dan efeknya akan sangat buruk bagi perekonomian dunia. Dan ini bukan pekerjaan mudah. Iran selama ini justru sangat memperkuat kemampuan militernya demi mengontrol Selat Hormuz bila terjadi perang.  Meskipun, AS juga sudah mempersiapkan banyak hal untuk menjaga agar Hormuz tetap terbuka, antara lain dengan menempatkan berbagai perlengkapan militer di Bahrain, Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, dan UAE. Namun inipun mengandung ancaman lain. Iran berkali-kali mengancam, bila wilayahnya diserang, Iran akan melakukan serangan balasan ke semua negara Arab yang di dalamnya ada pangkalan militer AS. Belum lagi, Rusia dan China diperkirakan akan ikut campur demi mengamankan kepentingan mereka sendiri di Timteng. Tak heran bila banyak analis mengungkapkan ramalan bahwa Perang Dunia III akan meletus bila AS sampai menyerang Iran.

Lihatlah situasinya: bila Israel dan AS menyerang Iran, artinya mereka keluar dari wilayah mereka sendiri dan harus bersusah-payah mengusung semua perlengkapan militernya. Lalu, urusan tidak selesai hanya dengan menjatuhkan bom ke situs nuklir Iran. Serangan balik dari Iran, dan posisi geostrategis Iran, sangat memberikan potensi kekalahan bagi AS dan Israel. Karena itulah, Menhan Leon Panetta sampai berkata, “Sangat jelas bahwa bila AS melakukan serangan itu, kita akan mendapatkan akibat buruk yang sangat besar.”

Sekarang mari kita balik: bagaimana seandainya Iran menyerang Israel? Minimalnya, ada dua versi jawaban yang bisa diberikan sementara ini.
  1. Berdasarkan kalkulasi hard power. Ingat lagi profil militer Iran. Bisa dibayangkan, berapa banyak senjata yang dimiliki Iran dengan dana 7 M Dollar pertahun, dibandingkan dengan banyaknya senjata yang dimiliki AS dengan dana 687 M Dollar pertahun.  Bandingkan lagi dengan kondisi ‘seandainya Israel menyerang Iran’ seperti yang sudah dianalisis Cordesman di atas.   Kesimpulan yang bisa diambil adalah saat ini, profil militer Iran memang belum mampu menyerang Israel secara langsung, begitu juga sebaliknya, Israel juga belum mampu menyerang Iran secara langsung. Sementara, AS punya hitung-hitungan lain di luar sekedar menyerang Iran. AS akan menghadapi kehancuran ekonomi yang sangat parah bila sampai mengobarkan perang terhadap Iran.
Artinya, kedua pihak saat ini masih dalam posisi sama-sama bertahan. Itulah sebabnya, retorika Iran selama ini memang selalu defensif: Iran tidak mengancam akan menyerang, melainkan ‘akan membalas bila ada yang berani menyerang’. Seandainya Iran dalam posisi diserang dan membela diri dari dalam negeri (bukan dalam posisi menyerang dan mengirimkan pasukan ke luar wilayahnya) Iran sangat mungkin bertahan dan meraih kemenangan, karena memiliki keunggulan geostrategis. Hanya dengan memblokir Selat Hormuz, seluruh dunia akan merasakan dampak buruk perang dan bahkan AS akan bangkrut sehingga tak akan mampu melanjutkan perang.

Sebaliknya, untuk bisa maju perang (=secara ofensif mengirimkan senjata dan pasukan ke luar wilayahnya), Iran tidak mungkin maju sendirian. Bila negara-negara Arab, terutama yang berbatasan darat dengan Palestina, belum siap berjuang, tentu sangat konyol bila Iran harus mengirim pasukan ke Palestina yang jauhnya 1500 km dari Teheran. Berapa banyak pasukan, pesawat tempur, dan rudal yang mampu dikirim oleh Iran yang hanya punya anggaran 7 M Dollar pertahun?  Bila Mesir saja yang pemerintahannya dikuasai Ikhwanul Muslimin (artinya, seideologi dengan Hamas) masih menutup pintu perbatasannya dengan Gaza; masih menolak untuk terjun langsung ke medan pertempuran membela saudara se-harakah mereka, mengapa Iran yang di-ojok-ojok untuk mengirim pasukan perang? Karena itu, dari sisi ini, hanya satu kata untuk menilai pertanyaan ‘mengapa Iran tidak langsung menyerang Israel?’ : naif.

2. Berdasarkan kalkulasi soft power. Sangat mungkin, di atas kertas, profil militer Iran memang seperti yang diungkapkan di atas. Tapi, bila diingat lagi percepatan kemajuan teknologi militer yang dicapai Iran dan statemen beberapa petinggi militer Iran yang menyebutkan bahwa kemampuan Iran ‘jauh lebih besar dari apa yang terlihat’, ada aspek lain yang perlu dipertimbangkan. Iran adalah negara yang berbasis teologi mazhab Syiah dan meyakini adanya aspek transenden dalam setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin spiritual mereka (rahbar). Militer Iran pun berada di bawah wewenang rahbar, yang sekarang dijabat Ayatullah Khamenei. Iran meyakini bahwa Ayatullah Khamanei memiliki kemampuan transenden sehingga mengetahui kapan saat yang tepat untuk maju perang. Orang lain boleh tidak percaya, tetapi ini adalah urusan rakyat Iran sendiri.

Di sini, pertanyaan mengapa Iran belum juga menyerang Israel secara langsung (seandainya memang kemampuan militernya sebenarnya sudah mencukupi) akan mendapat jawaban sederhana saja: karena belum diizinkan oleh sang Rahbar. Lalu, mengapa Rahbar belum memberi izin? Silahkan dipikirkan sendiri, dengan mengaitkannya pada hal-hal yang bersifat ideologis dan relijius; dan hal ini di luar kapasitas saya untuk menjelaskan.
Intinya, perjuangan melawan Israel bukanlah perjuangan Iran saja. Ini seharusnya menjadi perjuangan bersama semua negara-negara muslim. Dan inilah yang terus diupayakan para pemimpin dan ulama Iran melalui berbagai statemen dan orasinya: membangkitkan kesadaran dan semangat juang kaum muslimin sedunia; sambil terus berupaya memperkuat profil militernya. Ini bukanlah omdo (omong doang), tapi upaya yang memang harus dilakukan sebelum mencapai kemenangan.

Akan tiba suatu masa ketika kaum muslimin sedunia bangkit bersatu dan bersama-sama merebut kembali Al Quds dari tangan para penjajah. Inilah janji Allah dalam QS 17:4-5, “Dan telah kami tetapkan terhadap Bani Israel di dalam Alkitab: sesungguhnya kalian akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan kalian akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Dan maka ketika telah tiba apa yang dijanjikan itu, akan kami bangkitkan para hamba yang perkasa dan  memiliki kekuatan besar untuk mengalahkan kalian. Para hamba itu akan mencari kalian sampai ke tempat persembunyian kalian dan janji [Allah] itu pasti terjadi.”

update:
karena ada beberapa komentator yang nanyain sumber tulisan (pdhl, tinggal googling aja tho, cari kata kunci cordesman+csis+iran+israel), ini sy kasih linknya, silahkan download sendiri:
Lalu kalau ada yang mau tahu lebih jauh soal soft power Iran, bisa baca tulisan saya sebelumnya
Nah, kalau masih nanya, sumbernya dimana, gooling aja , The Iranian Journal of International Affairs, Manouchehr Mohammadi, soft power Iran.

IRAN-RUSIA LATIHAN PERANG LAUT DI KASPIA

http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/06/iran-rusia-latihan-perang-laut-di-kaspia.html#.UdEqxtiN6So
 
 
Angkatan laut Iran dan Rusia akan melakukan latihan perang bersama di Laut Kaspia tahun ini. Latihan bersama ini merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya dilakukan tahun 2009 dengan melibatkan sekitar 30 kapal perang dari kedua negara.

Demikian pengumuman yang dikeluarkan Deputi Panglima Armada Laut Kaspia Rusia Nikolai Yakubovsky setelah mengadakan pertemuan dengan komanda armada laut Iran yang bertamu ke kota pelabuhan Astrakhan, Jum'at (28/6) sebagaimana dilaporkan media Rusia "RIA Novosti".

Iran telah mengirim 2 kapal berpeluru kendali buatan domestik ke Astrakhan, Laut Kaspia, sebagai bagian dari peningkatan kerjasama militer kedua negara. Selama kunjungan tersebut para perwira AL Iran mengadakan kunjungan ke berbagai fasilitas militer Rusia di kota sekitar serta mengadakan pertemuan dengan beberapa pejabat dan perwira tinggi Rusia.

Kunjungan kapal-kapal perang Iran tersebut merupakan balasan dari kunjungan kapal-kapal perang Rusia dari Armada Pasifik, ke pelabuhan Bandar Abbas, tgl 21 April lalu. Armada kecil Rusia itu terdiri dari destroyer anti-kapal selam "Admiral Panteleyev", dan kapal logistik "Peresvet" dan kapal pengangkut "Admiral Nevelskoi" dengan jumlah personil mencapai 712 orang Kapal-kapal tersebut selanjutnya berlayar ke Laut Tengah untuk mengaktifkan kembali Armada Laut Tengah Rusia yang dinon-aktifkan setelah runtuhnya UNi Sovyet.


Selain berhasil membangun beberapa kapal perang modern buatan sendiri, dalam beberapa tahun terakhir Iran telah mengirimkan kapal-kapal perangnya ke berbagai perairan dunia hingga ke Samudra Pasifik dan Atlantik. Kehadiran kapal-kapal tersebut selain untuk melindungi kapal-kapal dagang Iran juga memiliki simbol politik yang sangat kuat, yaitu menunjukkan pengaruh global Iran yang semakin kuat.
REF:
"Iran, Russia plan joint naval exercise in Caspian Sea: Russian cmdr."; Press TV; 29 Juni 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar